Minggu, 19 April 2015

Pengalaman Periksa ke Dokter Mata



Kata kunci :

mata minus dokter mata periksa salatiga

Hari itu, Jum'at, 3 April 2015, aku periksa mata ke dokter mata di Salatiga.

Saya merasa mata kiri saya minus, namun, ketika saya bercerita pada teman-teman saya sekelas yg berkacamata, dan rata-rata minus satu, mereka tidak tahu. Sayapun mencoba membandingkan penglihatan saya dengan teman saya yang matanya minus 1,5. Kami membaca sebuah tulisan yang saya tulis di papan tulis. Yaaah... ukurannya cukup kecil sih, panjangnya kira-kira sama dengan 8 cm, dan kami mencoba membacanya dari jarak 1,5 meter. Teman saya dapat membacanya tapi dia mengatakan "Blur gituh, tapi agak kelihatan kok".

Saya heran dengan jawaban teman saya tersebut, karena saya sama sekali tdk dapat membacanya, blur sekali. Setelah saya pulang ke rumah,saya menceritakannya kepada Bapak (panggilan Jawa untuk Ayah, Papa, Papi, Daddy) saya. Namun Bapak saya menyepelekannya. Ya sudah. Saya membiarkannya begitu saja.

Sekitar empat bulan kemudian, saat saya di sekolah, seorang guru bercerita bahwa mata itu harus diperiksakan ketika kita mulai merasa ada gangguan, misal ketika kita pusing dan sering "mengucek-ucek"mata, mata lelah, blur saat memandang, dll.
Perkataan guru tersebut membuat saya teringat mata kiri saya. Pulang sekolah, saya mengatakan hal itu kembali kepada Bapak saya dngn menambahkan kata-kata "Kalo dibiarin malah tambah besar minusnya lho, Pak."

Akhirnya pada esok hari, sore ketika pukul empat, kami pergi ke Dokter Mata. Mata saya pun diperiksa.

Pertama-tama, saya ditanya keluhan :
  1. Ada apa?
  2. Pusing nggak?
  3. Sejak kapan?
 Lalu dokter menyenteri (mencahayai) mata saya, lalu dokter menggerakkan jari telunjuknya ke berbagai arah. Saya disuruh melihat ke arah manapun jarinya bergerak.
Kemudian, saya dipakaikan sebuah kacamata bulat (seperti kacamata Harry Potter), kacamata bagian kiri di tutup dengan lempengan plastic hitam bentuknya lingkaran oleh asisten dokter tersebut. Lalu saya disuruh membaca “Snellen Chart”.( Yang ada tulisan huruf-huruf berbagai ukuran itu.) Saya lancar dalam membacanya. Lalu dokter berkata stop. Saya berhenti membaca, dan asisten dokter memindahkan lempengan hitam tersebut untuk menutupi mata kanan. Dan saya disuruh membaca “Snellen Chart”  lagi. Huruf paling besar saja tidak bisa saya lihat. Huruf tersebut adalah huruf “E”. sebenarnya.

 Dokter pun berkata : “Ini pasti ada masalah pak.”
Asisten dokter pun menempelkan suatu lensa pembesar. Lalu saya ditanyai olehnya “Kelihatan??”
Saya jawab “Nggak.”
Lalu asisten tersebut berkata “Hanya bisa membaca 1 meter, dok.”

Saya disuruh kembali duduk di depan dokter tersebut. Dokter kembali menyenteri mata saya. Lalu saya disuruh memandang lurus ke depan. Kemudian, dokter tersebut mengeluarkan alat seperti penggaris kecil.Dia menghitung sesuatu.
Lalu dokter mengatakan hal yang mengagetkan. “Min 15!”
“Hah??!!” Saya terkejut.
Wow, kelas 1 SMP minus 15 di mata kirinya. Amazingg.
Kemudian dokter menulis resep obat. Dan Ia menyuruh saya melatih mata saya setiap pagi melihat jauh.
Omong-omong bayarnya Rp 70.000,-.
Saya pergi ke apotek membeli obat tersbut : Occu-V (tablet), Augentonic (tetes mata). Harga seluruhnya Rp 105.000,-

Selain itu saya rajin mengkonsumsi wortel. Semoga mata saya kembali sehat. Amin.

Sumber gambar : apotikedy.com
                            en.wikipedia.org

1 komentar: